Beranda Berita Pimpinan Ponpes di Lebak Jadi Tersangka, Setelah Cabuli 6 Santriwatinya

Pimpinan Ponpes di Lebak Jadi Tersangka, Setelah Cabuli 6 Santriwatinya

0
Pimpinan Ponpes di Lebak Jadi Tersangka, Setelah Cabuli 6 Santriwatinya
Ilustrasi

Lebak | Sinar Pagi Kepala pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, yang dikenal dengan inisial MS (37 tahun), telah diduga terlibat dalam kasus pencabulan terhadap enam santriwati. Terduga pelaku, MS, diduga memanfaatkan modus pengobatan palsu sebagai alat untuk menipu para korban dengan dalih menyembuhkan penyakit mereka.

Menurut Ipda Sutrisno, Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) pada Satreskrim Polres Lebak, pelaku menggunakan modus pengobatan ini sebagai sarana untuk mempengaruhi korban, yang kemudian diikuti oleh tindakan pencabulan. “Modusnya pengobatan. Caranya dengan bujuk rayu setelah itu korban akan dicabuli,” ujar Ipda Sutrisno saat dimintai konfirmasi pada Sabtu, 2 September 2023.

Sutrisno juga menjelaskan bahwa salah satu dari enam korban melaporkan bahwa dia telah mengalami pemerkosaan. Dari keenam korban ini, lima di antaranya masih di bawah usia 17 tahun, sementara satu lainnya merupakan seorang dewasa berusia 20 tahun.

“Satu orang korban bahkan mengaku pernah disetubuhi dan hasil visum membenarkan pernyataan korban,” tambahnya.

Kasus ini terungkap setelah salah satu korban berani menceritakan pengalaman yang dialaminya kepada temannya. Dari situ, diketahui bahwa ada lima santriwati lainnya yang juga mengalami perlakuan serupa.

Sutrisno mengungkapkan bahwa korban yang telah diperkosa akhirnya berbicara dengan keluarganya tentang insiden ini. Keluarga korban kemudian mendampinginya untuk melaporkan kasus ini kepada Polres Lebak. Pihak kepolisian juga memberikan pendampingan psikologis kepada para korban.

Pencabulan ini disinyalir telah terjadi sejak tahun 2021. Ipda Sutrisno menyebutkan bahwa MS dapat dijerat dengan Pasal 76 D Juncto 81 dan 76 E Juncto 82 UU Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.

Sutrisno juga menambahkan, “Apabila pelakunya guru, orang tua, wali, tenaga pengajar bisa ditambah 1 per 3 dari ancaman pidana. (ra)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini