Beranda Berita Polisi Meminta Pinjol Mematuhi Aturan dalam Menagih Debitur

Polisi Meminta Pinjol Mematuhi Aturan dalam Menagih Debitur

0
Polisi Meminta Pinjol Mematuhi Aturan dalam Menagih Debitur
Ilustrasi

Jakarta – Polisi mengajukan permintaan serius kepada perusahaan pinjaman online (pinjol) untuk tunduk pada peraturan saat menagih para debiturnya. Salah satu peraturan utama adalah mereka tidak diperbolehkan mengancam atau melakukan tindakan melawan hukum dalam proses penagihan.

“Pinjol tidak melanggar hukum selama mereka menjalankan operasional mereka secara sah. Permasalahannya muncul ketika mereka menggunakan penagih utang yang menyalahi hak debitur dan mengancam mereka,” kata Kombes Ade Safri Simanjuntak, Dirkrimsus Polda Metro Jaya, dalam sebuah pernyataan kepada wartawan pada Jumat (22/9/2023).

Ade menegaskan bahwa tindakan semacam itu secara tegas dianggap melanggar hukum. Polisi bersedia mengambil tindakan tegas jika perusahaan pinjol melanggar hukum dalam menjalankan bisnisnya.

“Kami tidak akan mentolerir tindakan melanggar hukum ini, dan kami akan menegakkan hukum dengan tegas terhadap setiap bentuk pelanggaran yang terjadi,” tambahnya.

Kasus-kasus terkait pinjaman online telah mendapatkan perhatian yang lebih besar setelah curhatan seorang ayah yang akhirnya nekat bunuh diri menjadi viral. Ayah tersebut telah ditagih dan diteror oleh penagih utang dari perusahaan pinjaman online. Keluarganya mengungkapkan bahwa dia nekat bunuh diri setelah menerima teror dari perusahaan judi online karena dia tidak mampu membayar utangnya.

Menurut laporan, korban adalah seorang pria beranak satu. Dia telah meminjam uang sebesar Rp 9,4 juta dari perusahaan pinjol, tetapi jumlah yang harus dia bayarkan menjadi Rp 18-19 juta setelah bunga ditambahkan.

Ketika dia tidak dapat melunasi utang beserta bunganya, dia menjadi sasaran teror dan penghinaan di tempat kerjanya, yang pada akhirnya berujung pada pemecatan.

Namun, teror tersebut tidak berhenti di situ saja. Teror tambahan berupa pesanan makanan fiktif dari ojek online juga dikirimkan ke rumahnya. Dari rangkaian teror ini, korban akhirnya mengambil keputusan tragis untuk mengakhiri hidupnya.

Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Ade Safri Simanjuntak mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan serangkaian penyelidikan terkait curhatan tersebut. Mereka mendapatkan informasi bahwa korban berasal dari Sumatera Selatan.

“Akun Twitter yang membagikan informasi tersebut bukan keluarga korban. Informasi ini diperoleh oleh pemilik akun dari kenalannya,” ungkap Ade.

Ade Safri juga memberikan saran kepada korban lainnya untuk melaporkan kasus serupa ke pihak kepolisian setempat. Dia memastikan bahwa pihak kepolisian akan mendukung dan mengawal kasus semacam itu hingga tuntas. (sugeng)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini