Beranda Berita Arifin Panigoro Bukan Tersangka

Arifin Panigoro Bukan Tersangka

0
Arifin Panigoro Bukan Tersangka
Arifin Panigoro

Jakarta | Sinar Pagi – Arifin Panigoro, statusnya ternyata bukan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi triliun rupiah yang berkaitan dengan penerbitan Commercial Paper (CP) yang dilakukan oleh kelompok usahanya Arifin. Pihak Kejaksaan bahkan sudah meminta media massa untuk meralat status Arifin sebagai tersangka.

Permintaan ralat tersebut dilontarkan dalam jumpa pers di gedung bulat Kejaksaan Agung, Rabu (11/11). Jumpa pers yang digelar seusai Arifin memberi keterangan kepada tim pemeriksa itu, selain diikuti Arifin Panigoro dan penasihat hukumnya T.Mulya Lubis, juga diikuti tim pemeriksa dari Kejaksaan Agung.

“Melalui Pak Barman Zahir, Kahumas Kejaksaan Agung, kami sudah meminta agar media massa meralat bawa status Pak Arifin ini bukanlah sebagai tersangka. Namun kasus ini baru tahap pemeriksaan,” kata Bismar Mannu, salah satu anggota tim yang ikut memeriksa Arifin. Dan dalam pemeriksaan itu, Arifin juga tidak harus meneken Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Sedangkan Arifin sendiri menolak tegas jika ia dituduh telah melakukan korupsi. “Saya ini bukan koruptor. Sungguh menyakitkan hati tuduhan korupsi itu,”tandas Arifin Panigoro. Sebab, menurut Arifin, bertahun-tahun ia menjalankan usaha, ia mati-matian menjauhi tindakan-tindakan yang tidak bermoral termasuk korupsi.

Bagi Arifin, soal CP yang jatuh tempo dan belum dilunasi, adalah soal transaksi bisnis yang wajar terjadi di dunia usaha. Dan Medco menurut Arifin, akan berusaha menyelesaikan kewajibannya paling tidak pada akhir tahun ini. “Saya kan buktikan bahwa saya ini bukan koruptor,”katanya.

Bahwa Arifin memenuhi panggilan Kejaksaan, menurut dia, niatnya adalah untuk langsung bertemu dengan Jaksa Agung Andi M.Ghalib. Dan itu bukan untuk menyelesaikan soal tuduhan korupsi, tetapi justru untuk menyelesaikan masalah di luar itu. Arifin masih menilai, bahwa tuduhan korupsi itu bermotif politik. “Boleh jadi ada yang tidak suka dengan sepak terjang saya. Namun begitu saya akan terus membantu gerakan mahasiswa,”katanya.

Dan untuk diketahui saja, kata Arifin, CP yang dikeluarkan Medco itu benar-benar untuk menjalankan suatu proyek besar. Tidak sesen pun dana dari penerbitan CP itu dia pakai untuk kepentingan pribadi. “Itu menyangkut dana yang gede. Jadi kalau hanya untuk membantu nasi bungkus, kan ndak perlu pakai dana dari CP itu,”kata Arifin.

Sedangkan T.Mulya Lubis mengatakan, panggilan Kejaksaan kepada Arifin tersebut cacat hukum karena tidak jelas. Dalam surat panggilan, Arifin dipanggil bersama Sugiarto dan Darmoyo dinyatakan dari Medco Grup. Padahal Medco Grup itu adalah kumpulan perusahaan. Dan lagi, kata Mulya Lubis, tuduhan bahwa CP tersebut merugikan negara, sama sekali tidak menggambarkan apa yang terjadi.

Tuduhan terhadap Arifin tersebut, juga dinilai Mulya Lubis tidak tepat waktu, sebagaimana Arifin pernah dituduh hendak melakukan makar dengan mengerahkan sejuta massa untuk menjatuhkan Soeharto menjelang SU MPR Maret 1998. Kasus itu kemudian dikenal dengan kasus Radisson Yogyakarta.

“Jadi kesan politis sulit dihindari. Kalau Kejaksaan Agung berniat menegakan hukum ya jangan diskriminasi,”kata Lubis. “Kasus CP itu kan terjadi dibanyak perusahaan termasuk di BUMN, tapi kenapa kok Arifin yang dicecar,”kata Mulya Lubis.

Masih menurut Mulya Lubis, Medco sendiri kini tengah melakukan negosiasi dengan PT Asuransi Jasindo guna melakukan penyelesaian soal CP tersebut. Kalau negosiasi gagal, kata Mulya Lubis, Jasindo kan bisa melakukan gugatan secara perdata. Dan lagi UU kepailitan kan kini sudah berlaku. “Jadi itu benar-benar urusan perdata, bukan pidana. “Karena itu Kejaksaan Agung sebaiknya jangan menjadi kepanjangan politik dari pihak-pihak yang berada di luar Kejaksaan,”kata Mulya Lubis. (sugeng)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini