Beranda Berita Cek FAKTA! Ini Dia Pengertian Green Inflation (Greenflation), Penyebab dan Contohnya

Cek FAKTA! Ini Dia Pengertian Green Inflation (Greenflation), Penyebab dan Contohnya

0
Cek FAKTA! Ini Dia Pengertian Green Inflation (Greenflation), Penyebab dan Contohnya
Green Inflation

sinarpagi | Wah, sedang ramai nih Green Inflation, guys! Kalau dengerin pas debat Cawapres kemarin, Gibran mengangkat isu ini dengan semangat tinggi. Topiknya serius sih.

Jadi, Green Inflation itu sebenernya kayak inflasi yang lebih ramah lingkungan gitu, guys. Gara-gara harga energi naik, jadinya masyarakat ribut dan ekonomi jadi rusuh.

Nah, Greenflation ini ada hubungannya sama kebijakan pemerintah dan perusahaan swasta yang lagi ngelakuin transisi ke gaya hidup hijau. Jadi, sebenernya harga barang-barang ramah lingkungan naik gara-gara permintaannya tinggi, tapi pasokannya kurang. Akibatnya, terjadi inflasi gara-gara beralihnya energi ke yang lebih bersih.

Terus, untuk beralih ke teknologi rendah karbon, itu butuh investasi besar, guys. Biayanya naik, dan ini bikin harga barang yang dihasilkan juga ikutan naik. Makanya, bisa ada tekanan ke atas pada harga.

Pokoknya, selain bikin investasi besar, transisi energi ini juga bisa bikin harga energi naik dulu sebelum akhirnya turun. Jadi, ada lonjakan harga dulu sebelum kita nikmatin hasilnya.

Tapi, tenang aja, guys. Karena dalam jangka panjang, ini bisa ngepress harga energi, jadi mungkin bakal ada disinflasi. Artinya, harga-harga bisa turun.

Jadi, semakin cepat kita beralih ke hidup tanpa banyak emisi, semakin moderat dampak gangguan dan inflasinya. Mungkin ada gangguan sebentar, tapi ke depannya bakal lebih nyaman.

Greenflation Diawali Green Production)

Jadi, kita tahu kan, transisi kehidupan yang lebih hijau ini pasti ada hubungannya sama cara kita produksi barang. Kita butuh metode produksi yang lebih ramah lingkungan biar emisi gas rumah kacanya rendah. Tapi, guys, gak bisa dipungkiri, perubahan besar ini bisa bikin harga naik, dan ini serius, gak bohong!

Terus, ada mineral-mineral yang dibutuhin buat industri “net zero” ini jumlahnya terbatas, guys. Ada yang sulit diekstraksi meskipun permintaannya tinggi. Contohnya, lithium, yang banyak dipakai buat baterai listrik. Permintaannya diperkirakan bakal naik empat kali lipat sampe 2035, tapi ada pertanyaan besar, apakah pasokannya bakal cukup? Para ilmuwan masih pada bingung gitu.

Masalahnya lagi, guys, 91% litium itu diproduksi oleh tiga negara doang, Australia, Chili, dan China. Dan lebih dari setengah produksi kobalt berasal dari Republik Demokratik Kongo. Jadi, kita ini pada tergantung banget sama negara-negara ini, bisa dibayangin gak sih kalo ada masalah?

Terus, tambang baru ini juga gak bisa beroperasi lama, cuma sekitar 20 tahun. Di tambah lagi dengan hambatan lingkungan, yang bikin tambang baru ini susah banget di dirikan.

Nah, karena pasokan ini gak elastis, artinya gak bisa di perluasin dengan mudah, plus permintaan yang terus menerus, ini bisa bikin harga melambung, guys. Konon, ini bikin konfigurasi inflasi di pasar-pasar ini.

Terus, perusahaan dan pemerintah harus fokus ke penelitian buat proses baru yang bisa ngehilangin emisi. Tapi, guys, teknologi baru ini mahal, ya. Dalam jangka pendek, investasinya bisa nambahin biaya produksi dan akhirnya, ngebawa dampak inflasi.

Tapi, di sisi lain, dengan teknologi baru ini, kita bisa jadi lebih efisien dan produktif, jadi mungkin harga-harga juga bisa turun. Jadi, intinya, kita harus hadapi ini dengan kepala dingin, guys. Hidup hijau itu emang gak mudah, tapi pasti bisa, kan?

Kekhawatiran Green Inflation

Nih, guys, kita bahas soal transisi energi, katanya bisa bikin inflasi naik. Jadi, pada dasarnya, perusahaan harus beralih dari energi fosil ke yang terbarukan, tapi ini bikin biaya naik. Bikin mikir, kan?

Nah, faktanya, ini ada banyak peraturan dan kebijakan yang bisa ngefek ke inflasi. Contohnya, tekanan globalisasi dengan tarif perdagangan yang terus berlanjut. Kayaknya ini bisa ngebuat harga-harga makin tinggi deh.

Terus, kebijakan iklim ini kan jalan terus selama beberapa dekade, jadi ini kayak pendorong struktural. Tapi, gak semua orang bakal ngerasain inflasi tinggi terus-menerus, kecuali kalau bank sentral sengaja nahan suku bunga tinggi. Jadi, intinya, gak semua situasi bakal bikin inflasi terus di atas target bank sentral.

Sekarang, para investor harus lebih bijak, liat lebih jauh ke depan. Ada kemungkinan juga bakal ada di sinflasi, guys, dari kebijakan global yang ketat terus.

Nah, pengamat malah lihat potensi inflasi hijau dalam dua tahun ke depan. Tapi, fokusnya bukan di sana, melainkan di resesi yang bisa dateng lebih cepet dari dugaan di Amerika. Jadi, jangan cuma mikir inflasi hijau aja, tapi juga resesi yang ngintip dari balik pohon.

Ini cerita inflasi hijau kan lebih ke Barat, guys. Di Asia Pasifik, inflasinya jauh lebih rendah. Mungkin karena kebijakan iklim udah di implementasi dari dulu, dan gak ada masalah yang sama di sektor bahan bakar fosil. Plus, lambatnya pembukaan ekonomi Asia setelah Covid-19 bikin aktivitasnya juga lemah.

Jadi, intinya, ini kayak drama inflasi hijau yang lebih ramai di Barat, sementara di sini, di Asia Pasifik, masih lebih chill. Semoga drama inflasi gak bikin kita pusing kepala, ya!

Solusi Green Inflation

Kalau kita bahas soal solusi-solusi yang katanya bisa bikin inflasi. Misalnya, kendaraan listrik, kan? Nah, ini lebih mahal di banding kendaraan bensin. Tapi, tenang, seiring waktu, harga kendaraan listrik ini bisa turun drastis. Sama halnya dengan teknologi terbarukan lainnya, kayak tenaga surya.

Tapi, guys, yang tampaknya bikin inflasi sekarang bisa aja jadi di sinflasi di masa depan, loh. Nanti, harga komoditas bisa turun, dan Asia, yang jadi pemain besar dalam impor komoditas, bakal dapet untung besar.

Ini yang penting, ketika kamu mau ngejual investasi berkelanjutan, harus di omongin bahwa transisi energi ini bukan keputusan sekejap mata. Bisnis yang masih banyak pakai komoditas dan bahan bakar fosil bisa tetep jalan dengan baik, karena naiknya biaya produksi lebih pelan di banding kenaikan harga. Jadi, baik buat pendapatan dan penilaian mereka.

Sebaliknya, valuasi di sektor energi terbarukan bisa mahal, guys. Makanya, sebagian besar bisnis di situ lagi berkembang pesat. Tapi, dengan naiknya suku bunga, tingkat diskonto yang di pake pada pendapatan mereka juga naik, ini bisa bikin performa mereka kurang keren.

Jadi, yang jelas, buat investor, ini kayaknya bakal ada roller coaster banget, ya. Meskipun ada keyakinan bahwa bank sentral bakal atasi masalah ini, strategi buat atasin inflasi dan volatilitas ini bisa jadi menarik buat portofolio kamu dalam jangka pendek. Jadi, siap-siap aja buat naik turunnya, guys!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini