Beranda Berita Apa itu Demo Rompi Kuning, Disinggung Gibran ke Mahfud di Debat?

Apa itu Demo Rompi Kuning, Disinggung Gibran ke Mahfud di Debat?

0
Apa itu Demo Rompi Kuning, Disinggung Gibran ke Mahfud di Debat?
Demo Rompi Kuning

Jadi, cawapres nomor dua itu, si Gibran Rakabuming Raka, lagi sibuk ngepoin cawapres nomor tiga, Mahfud MD, nih. Dan, lo harus tau, suasana jadi panas gara-gara mereka nyambungin greenflation sama Demo Rompi Kuning.

Gibran, dengan sok cueknya, nanya ke Mahfud, “Bro, gimana sih cara ngatasi greenflation ini? Thanks ya,” katanya, Minggu kemarin.

Nah, si Mahfud, nggak mau kalah, jawab sesuai dengan definisi yang diajak Gibran. Dia bilang itu ada hubungannya sama ekonomi hijau yang melibatkan ekonomi sirkular gitu.

“Ada tuh orang Madura yang rajin ngumpulin sampah, plastik-plastik, terus diolah jadi ekonomi sirkular. Nah, gimana caranya ngatasi ini? Ya diatur aja jatahnya. Udah ada kecenderungannya begini, kebijakannya begitu,” jawab Mahfud dengan santainya.

Tapi Gibran nggak puas gitu aja. Dia langsung ngegebrak Mahfud, nyebutnya lagi “mencari-cari jawabannya.”

Trus, Gibran balik lagi, cerita soal greenflation yang kaitannya sama demo rompi kuning di Prancis. “Parah banget, udah ada korban nih,” tegasnya.

Jadi, perang mulut antara cawapres nomor dua dan nomor tiga ini seru banget deh, kayak nonton drama politik versi komedi.

Lalu apa itu demo rompi kuning?

Nah, kamu tau nggak apa itu demo rompi kuning? Ini tuh awalnya gerakan protes yang muncul di Prancis tahun 2018. Jadi, warganya pada bikin aksi blokade yang bikin macet dan kelangkaan bensin menjelang liburan.

Ini semua gara-gara Presiden Emmanuel Macron lagi pengen naikin pajak bahan bakar, di mana bakal ada tambahan 5 sen per galon buat bensin tahun 2020, dan 2 sen buat solar. Padahal, hidup di Prancis udah mahal banget, bebanin warganya lagi.

Jadi, rompi kuning itu sebenernya diambil dari rompi neon yang wajib dibawa sama pengemudi di Prancis kalo lagi darurat di pinggir jalan. Pokoknya, pake simbol itu, warganya mau Macron batalkan kenaikan pajak.

Tapi, ada sisi lainnya juga, nih. Pemerintah Prancis berharap dengan naikin pajak, warga bakal lebih banyak beli kendaraan yang minim polusi. Kaya effort gitu buat tekan pemanasan global.

Tapi, ceritanya makin gak jelas di bulan November. Tanggal 17, sekitar 280.000 orang demo di seluruh Prancis. Nah, dari demo biasa, jadi ribut, deh, sampe ada kebakaran di jalan Champs-Élysées. Para demonstran pake topeng sambil bendera Prancis berkibar.

Polisi balas serangan pake meriam air dan gas air mata. Lebih dari 100 orang ditangkep.

Macron, dalam cuitannya, kecam serangan ke polisi. Nada nya tajem, dia bilang “nggak ada tempat buat beginian” di Prancis.

Tapi, menurut para pakar, ini lebih dari sekedar protes pajak. Ini tentang kelompok kelas pekerja menengah atau atas yang merasa kejepit.

“Standar hidup yang terus naik,” kata ahli politik Prancis di London School of Economics, Joseph Downing.

“Mereka bosen sama harga yang melambung dan biaya hidup,” tambah Famke Krumbmüller, ahli politik Prancis di perusahaan konsultan politik OpenCitiz di Paris.

Intinya, Prancis lagi ribut soal pajak, tapi beneran ributnya lebih dalam dari itu, bro!

Seberapa Bahayakah Green Inflation?

Jadi, lo tau nggak, Minggu kemarin pas debat cawapres, si Gibran Nomor Urut 2 nanya ke Mahfud MD Nomor Urut 3, gimana sih atasin green inflation alias inflasi hijau itu.

Trus, si Mahfud jawab, atasin green inflation itu sama aja kayak jalanin ekonomi hijau gitu, di mana barang-barangnya di manfaatin dan di daur ulang, nggak di buang. Tapi, jawabannya di anggep keliru sama Gibran. Seru deh, kayak main tebak-tebakan tapi serius.

Nah, masalah green inflation ini sampe sekarang masih jadi obrolan hot di masyarakat, di dunia nyata atau maya. Orang-orang bingung apa sih artinya dan kenapa harus di bicarain inflasi hijau ini.

Ada ekonom dari UNS Surakarta, Lukman Hakim, bilang kalo inflasi hijau ini penting banget buat masa depan dunia. “Green inflation atau greenflation ini kan bagian dari ekonomi hijau, salah satu upaya untuk kurangin emisi karbon,” katanya, di kutip dari media, Selasa kemarin.

Dia bilang lagi, inflasi hijau itu di hitung dari barang-barang yang bisa ngepicu polusi. “Jadi, inflasinya udah nawarin variabel green economy gitu,” ujar Lukman.

Gak cuma itu, dia juga ngeyakinin kalo pertanyaan kayak gini bagus buat calon presiden dan cawapres buat ngecek seberapa besar komitmen mereka ke ekonomi hijau. “Soalnya, masa depan kan gitu,” tambahnya.

Lukman juga bilang, ini salah satu langkah menuju nol emisi karbon tahun 2060. Ekonomi hijau ini nargetin berbagai sektor, termasuk di bank atau perusahaan swasta.

“Jadi, laporan keuangannya bakal di nilai dari sudut ekonomi hijau, misalnya saya keluarin duit buat CSR, bakal di liat berapa pengaruhnya buat kurangin emisi karbon,” katanya.

Dia kasih contoh, program menanam pohon buat kurangin CO2. “Misalnya, tanam sekian ribu pohon, di hitung bakal kurangin CO2 berapa persen. Pokoknya, arahnya ke green economy gitu,” pungkas Lukman. Seru kan, beneran ada debat serius soal greenflation!

Bisa Turunkan Harga Juga

Jadi, nih, ada pakar ekonomi dari Universitas Andalas di Sumatera Barat, namanya Syafruddin Karimi, bilang kalo transisi ekonomi dan energi hijau bisa bikin inflasi yang tinggi, jadi perlu langkah antisipasi yang pas.

Dia ngomong, “Kalo pemerintah memutuskan jalanin ekonomi hijau atau energi ramah lingkungan, biayanya bakal jauh lebih gede. Nah, ini bisa bikin harga barang-barang naik, alias green inflation gitu,” katanya, di kutip dari media.

Dia tambahin lagi, kalo harga naik, pasti inflasi juga ikutan naik. Intinya, kalo pemerintah berubah ke ekonomi hijau, kita bakal bayar lebih mahal buat barang-barang yang kita butuhin.

Tapi, di sisi lainnya, kalo transisi ekonomi hijau bisa bikin harga barang turun juga. Kalo gitu, Prof Karimi yakin banyak orang bakal beralih ke energi baru, misalnya pake kendaraan listrik.

Tapi sayangnya, di Indonesia, ekonomi dan energi hijau belum ngebuat semua orang seneng. Misalnya, stasiun pengisian listrik buat mobil masih lebih banyak di kota-kota gede aja.

Jadi, Prof Karimi ngingetin pemerintah, kalo mau jadi hijau, nggak cuma perlu duit banyak, tapi juga harus ada fasilitas yang merata. Dia bilang, “Nggak bisa di pungkiri, stasiun pengisian listrik itu masih jauh dari merata. Misalnya, di kota-kota kecil masih sepi stasiun listrik buat mobil,” ujarnya.

Jadi, kalo mau hijau, nggak cuma modal duit, tapi juga perlu fasilitas yang setara, bro!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini