Beranda Internasional Dunia Kecam Pembantaian Etnik Rohingya

Dunia Kecam Pembantaian Etnik Rohingya

0
Dunia Kecam Pembantaian Etnik Rohingya
Etnik Rohingya

Myanmar | Sinar Pagi Aung San Suu Kyi meminta para anggota legislatif merumuskan undang-undang untuk melindungi hak kelompok etnik minoritas di Myanmar. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam pemerintah Myanmar atas kekerasan yang dialami etnik Rohingya.

Sejumlah demonstrasi yang mengecam kekerasan terhadap etnik Rohingya di Myanmar merebak di berbagai belahan dunia. Di Teheran, Iran, puluhan orang menggelar unjuk rasa di depan kantor perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Mereka mendeklarasikan 24 Juli sebagai hari internasional untuk solidaritas terhadap etnik Rohingya. Mereka juga mendesak organisasi internasional terkait untuk menempuh langkah serius dalam menghentikan pembunuhan dan pengusiran etnik minoritas. Di samping itu, Dubes Iran untuk Dewan HAM PBB Mohammad Reza Sajjadi menulis surat kepada Komisioner Dewan HAM PBB Navanethem Pillay. Dalam suratnya, Sajjadi meminta Pillay mendesak PBB melakukan langkah-langkah penghentian kekerasan terhadap etnik di Myanmar itu. Aksi serupa merebak di Jalur Gaza, Palestina. Ratusan pengunjuk rasa mendesak komunitas internasional mulai bergerak untuk mencegah tindak kekerasan terhadap etnik Rohingya.

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam pemerintah Myanmar atas kekerasan yang dialami etnik Rohingya.

Selain itu, MUI meminta pemerintah Indonesia dan PBB berperan aktif menyelesaikan masalah pelanggaran HAM terhadap etnik tersebut. Permintaan agar pemerintah RI turut bertindak pun muncul dari DPR dan MPR.

Saat menanggapi hal itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Michael Tene mengatakan Kemenlu telah memperjuangkan etnik Rohingya melalui berbagai forum.Pertama, melalui Organisasi Kon ferensi Islam (OKI) yang salah satu agendanya membahas etnik minoritas muslim di negara-negara bukan anggota OKI.

Di Dewan HAM PBB, Indonesia mendorong terciptanya proses demokrasi serta rekonsiliasi nasional di Myanmar.

Konsekuensinya, terdapat sekitar 800 ribu warga Rohingya yang telantar di wilayah Myanmar bagian barat. Laporan Organisasi Rohingya Burma di Inggris Raya menyatakan sekitar 650 warga Rohingya telah tewas dibunuh dalam konflik yang berlangsung sejak 28 Juni 2012. Selain itu, 1.200 orang dinyatakan masih hilang dan 90 ribu lainnya harus mengungsi.

Salah seorang pengungsi, seperti dikutip BBC, menuduh pihak keamanan Myanmar menutup mata ketika desa mereka diserang.
“Militer hanya menonton dari atap dan mereka tidak melakukan intervensi,“ kata Sayeda Begum, seorang perempuan Rohingya.

Pada sidang parlemen Myanmar, kemarin, tokoh prodemokrasi Aung San Suu Kyi meminta anggota legislatif merumuskan undang-undang untuk melindungi hak etnik minoritas di Myanmar. Dalam pidato pertamanya seusai dilantik sebagai anggota parlemen, tokoh peraih Nobel Perdamaian itu mengatakan undang-undang tersebut diperlukan untuk membangun sebuah negara yang demokratis dan berdasarkan asas saling menghormati.

Melindungi hak-hak etnik minoritas, ungkapnya, lebih diperlukan daripada sekadar mempertahankan bahasa dan budaya etnik.
Suu Kyi menambahkan, kelompok-kelompok etnik minoritas di Myanmar saat ini menderita karena kemiskinan.

Zohara Khatun tidak Tahu Harus Pergi ke Mana

Raut muka Zohara Khatun, seorang muslimah dari etnik Rohingya, tak bisa menutupi duka dalamnya.

Hingga kini, ia masih dihantui trauma saat menyaksikan ayahnya dibunuh di wilayah Myanmar barat, akhir Juni lalu.

“Ayah saya ditembak pada bagian kepala oleh tentara Burma di depan saya. Seluruh kampung kami dihancurkan. Kami pun kabur untuk menyelamatkan diri. Sekarang saya juga masih tidak tahu apa yang terjadi dengan ibu saya,” tutur Khatun menyebut nama lain dari Myanmar.

Kini Khatun harus meninggalkan desa di Provinsi Rakhine, Myanmar. Ia bersama para pengungsi Rohingya lainnya terpaksa tinggal di sebuah gubuk yang terletak di desa nelayan tak jauh dari Kota Teknaf, wilayah tenggara Bangladesh.

Saat menceritakan kisah pedihnya, perempuan berusia 30 tahun itu pingsan berkali-kali. Dengan air mata bercucuran, Khatun berkisah bagaimana ia dan para pengungsi lainnya terpaksa melintasi perbatasan menuju Bangladesh.

Ia menjelaskan desanya diserang tentara saat terjadi bentrokan antara warga mayoritas Buddha dan warga muslim lokal yang sebagian besar beretnik Rohingya. Saat itu, sedikitnya 80 orang tewas dan ribuan warga muslim kehilangan tempat tinggal karena hancur dirusak.

Setelah terjadi tindak kekerasan, ratusan warga muslim mengungsi menuju Bangladesh. Sebagian pengungsi menggunakan perahu dengan melintasi Teluk Bengal, juga menggunakan jalur Sungai Naf, yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh.

“Kami mengapung di atas air selama enam hari. Selama itu, saya juga tidak bisa memberi apa pun buat makanan anak-anak,” kata Khatun. “Saat kami mencapai Bangladesh, kami tidak diizinkan masuk.” Kini, 899 ribu muslim Rohingya tinggal di barat Myanmar. Otoritas Myanmar masih menganggap etnik Rohingya sebagai imigran ilegal dari subkontinen India. (rina)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini